Hati-hati Bisnis Berslogan “Bukan Investasi, Bukan MLM”

Ketika membicarakan bisnis maka kita juga harus paham tentang sistem bisnis. Dari memahami suatu sistem bisnis maka akan kelihatan mana bisnis yang bertipe konvensional, franchise atau bisnis jaringan. Berbeda dengan bisnis konvensional dan franchise, bisnis jaringan cenderung memberikan kemudahan bagi pelakunya baik dari segi modal dan waktu. Tidak heran bisnis jaringan tidak ada matinya, malah menjamur belakangan ini.

Begitu banyak bisnis jaringan belakangan ini menjadikan kita bingung menentukan mana bisnis jaringan yang benar-benar menguntungkan dan mana yang kiranya merugikan diakhir. Banyak yang telah menjadi korban dari sistem bisnis jaringan, banyak yang sudah tidak ingin berkecimpung bahkan hingga telah mencapai titik phobia dengan sistem bisnis jaringan, ada yang selalu menggantungkan mimpinya dari satu jenis bisnis jaringan ke bisnis jaringan lainnya, dan ada yang komitmen dengan bisnis jaringan yang digelutinya hingga bertahun-tahun yang membawanya ke tingkat demi tingkat kesuksesan dalam bisnisnya. Tipe yang mana kah anda?

Pada dasarnya suatu real bisnis akan memikirkan tentang Going Concern atau keberlangsungan usaha perusahan atau bisnisnya. Going concern atau keberlangsungan usaha dipengaruhi berbagai faktor baik finansial atau non-finansial. Pada sistem bisnis jaringan, kedua hal ini sangat sensitif dalam mempengaruhi keberlangsungan usaha dengan sistem bisnis jaringan daripada bisnis konvensional dan franchise. Jadi tak heran jika anda sering melihat suatu bisnis jaringan yang sangat cepat mencapai puncak kejayaan dan langsung terjun bebas kedasar kebangkrutan bisnisnya dan tidak bangkit lagi.

Dalam bisnis jaringan, paling tidak ketika anda memutuskan untuk menjadi pelaku bisnisnya, yang harus anda pahami adalah apakah perusahaan yang akan anda geluti bisa memberikan keuntungan jangka panjang paling tidak kepada 4 pihak, yaitu: Perusahaan, Pekerja/Karyawan, Customer/Pelanggan dan Masyarakat.

Untuk melindungi pihak eksternal perusahaan yang mengadopsi sistem bisnis jaringan dari kerugian, dalam hal ini pekerja/karyawan, customer/pelanggan dan masyarakat. Di Indonesia sendiri ada dua lembaga yang mengawasi, yaitu APLI (www.apli.or.id) dan OJK (www.ojk.go.id). APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia) berperan dalam mengawasi sistem penjualan langsung atau biasa dikenal dengan direct selling ataupun juga MLM. Sedangkan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) berperan dalam mengawasi berbagai sistem keuangan baik dalam bidang jasa perbankan, asuransi, perpajakan atau produk investasi seperti saham, obligasi, reksadana, dan sebagainya.

Perusahaan yang menjalankan sistem bisnis jaringan sebaiknya terdaftar atau bernaung dibawah dua lembaga ini. Dan pelaku bisnis serta calon customer harus jeli dalam melihat produk yang ditawarkan agar terhindar dari sistem money game (perjudian) ataupun investasi bodong, yang tentunya berdampak pada kerugian pihak eksternal perusahaan.

Jelas sudah slogan “Bukan Investasi, Bukan MLM” adalah slogan yang beresiko dalam suatu sistem bisnis jaringan, yang artinya sistem bisnis tersebut benar-benar tidak diawasi oleh suatu lembaga atau badan yang mengakomodir jika terjadi kerugian terutama dalam hal finansial bagi pihak tertentu.

 

Advertisements